Pages

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Agama Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 September 2016

Etos Kerja dalam Al-Quran dan Hadis

Allah SWT menjadikan semua yang ada di bumi sebagai lapangan untuk mencari rezeki atau kehidupan. Oleh karena itu, bertebaranlah di muka bumi ini untuk mencari anugerah dari Allah SWT. Al-Qur’an menganjurkan manusia agar bersikap disiplin dan menggunakan waktu secara efektif dan efisien. Apabila seseorang ingin mengalami kesuksesan dalam kehidupannya, salah satu modal utama adalah memiliki etos kerja yang tinggi. Dalam risalah yang mengandung pedoman hidup yang lengkap dan lurus terdapat pula etos kerja, berupa pedoman dan tuntunan dalam bekerja supaya karyanya sukses dan berkah. Etos kerja yang datang dari Allah Pencipta dan Penguasa alam raya inilah yang paling tepat dan yang hak, karena tiada lagi keterampilan dan pengaturan dari makhluk manapun yang mampu menandinginya.[1]
Dalam ceramah agama ilmiah ini akan dibahas mengenai etos kerja dalam Al-Qur’an. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan mengenai etos kerja. Etos kerja bagi seorang muslim akan berbeda dengan orang yang berbeda agama. Seperti yang terdapat dalam Surat Al-Mujadilah, Al-Jumu’ah, Al-Mulk dan lain sebagainya.
Ceramah Agama Islam Terbaru
Ceramah Agama Islam (Foto: Kemendesa.go.id)
Etos berasal dari kata Yunani, dapat mempunyai arti sebagai sesuatu yang diyakini, cara berbuat, sikap serta persepsi terhadap nilai bekerja. Dari kata ini lahirlah apa yang disebut dengan “ethic” yaitu pedoman, moral dan perilaku, atau dikenal pula etiket yang artinya cara bersopan santun. Dengan demikian yang dimaksudkan dengan etos adalah norma serta cara mempersepsi, memandang, dan meyakini sesuatu.[2] Ada beberapa definisi etos menurut para tokoh sebagai berikut:
a. Menurut Geertz, etos merupakan sikap mendasar manusia terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup.
b. Soerjono Soekanto mengartikan etos antara lain, nilai-nilai dan ide-ide dari suatu kebudayaan, atau karakter umum suatu kebudayaan
c. Nurcholis Madjid, etos berasal dari bahasa Yunani (ethos), artinya watak atau karakter. Secara legkap etos ialah karakter dan sikap, kebiasaan serta kepercayaan dan seterusnya yang bersifat khusus tentang seorang individu atau sekelompok manusia. Dan dari kata etos terambil pula perkataan “etika” yang merujuk pada makna “akhlak” atau bersifat akhlaqiy, yaitu kualitas esensial seseorang atau suatu kelompok manusia termasuk suatu bangsa.
d. Musya Asy’arie menjelaskan kata etos bisa dikaitkan dengan inidividu selain dikaitkan dengan masyarakat.[3]
Sedangkan kata “kerja” sendiri didefiniskan sebagai kegiatan melakukan sesuatu; sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah; mata pencaharian.[4] Islam mengatur setiap persoalan, termasuk memenuhi kebutuhan hidup (kerja), dengan asas agama (religiusitas). Islam juga memadukan segala nilai material dan spiritual ke dalam satu keseimbangan menyeluruh agar memudahkan manusia menjalani kehidupan yang telah ditentukan oleh rahmat dan kasih sayang Allah di akhirat nanti.[5]
Yang dimaksud dengan bekerja adalah segala usaha maksimal yang dilakukan manusia, baik lewat gerak tubuh ataupun akal untuk menambah kekayaan, baik dilakukan secara perorangan ataupun secara kolektif, baik unutk pribadi ataupun untuk orang lain (dengan menerima gaji).[6]
Makna bekerja bagi seorang muslim adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan mengerahkan seluruh aset, fikir, dan dzikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khoiro ummah) atau dengan kata lain dapat juga dikatakan bahwa hanya dengan bekerja manusia itu memanusiakan dirinya.[7]
Dari beberapa definisi dan penjelasan di atas, yang dimaksud etos kerja adalah karakter dan kebiasaan berkenaan dengan kerja yang terpancar dari sikap hidup manusia yang mendasar terhadapnya.[8]
Pengertian Kerja Menurut Perspektif Al-Qur’an
Di dalam kaitan ini, Al-Qur’an banyak membicarakan tentang aqidah dan keimanan yang diikuti oleh ayat-ayat tentang kerja, pada bagian lain ayat tentang kerja tersebut dikaitkan dengan masalah kemaslahatan, terkadang dikaitkan juga dengan hukuman dan pahala di dunia dan di akhirat. Al-Qur’an juga mendeskripsikan kerja sebagai suatu etika kerja positif dan negatif. Di dalam Al-Qur’an banyak ditemui ayat tentang kerja seluruhnya berjumlah 602 kata, bentuknya :
a. Kita temukan 22 kata ‘amilu (bekerja) di antaranya di dalam surat al-Baqarah: 62, an-Nahl: 97, dan al-Mukminun: 40.
b. Kata ‘amal (perbuatan) kita temui sebanyak 17 kali, di antaranya surat Hud: 46, dan al-Fathir: 10.
c. Kata wa’amiluu (mereka telah mengerjakan) kita temui sebanyak 73 kali, diantaranya surat al-Ahqaf: 19 dan an-Nur: 55.
d. Kata Ta’malun dan Ya’malun seperti dalam surat al-Ahqaf: 90, Hud: 92.
e. Kita temukan sebanyak 330 kali kata a’maaluhum, a’maluka, ‘amaluhu, ‘amalikum, ‘amaluhum, ‘aamul dan amullah. Diantaranya dalam surat Hud: 15, al-Kahf: 102, Yunus: 41, Zumar: 65, Fathir: 8, dan at-Tur: 21.
f. Terdapat 27 kata ya’mal, ‘amiluun, ‘amilahu, ta’mal, a’malu seperti dalam surat al-Zalzalah: 7, Yasin: 35, dan al-Ahzab: 31.[9]
Komponen Dasar Etos Kerja dalam Agama Islam
a. Iman dan Taqwa
Dalam Al-Qur’an banyak memuat ayat yang manganjurkan taqwa dalam setiap perkara dan pekerjaan. Ayat-ayat tentang keimanan selalu diikuti dengan ayat-ayat kerja, demikian pula sebaliknya. Ayat seperti “orang-orang yang beriman” diikuti dengan ayat “dan mereka yang beramal sholeh”. Keterkaitan ayat-ayat tersebut memberikan pengertian bahwa taqwa merupakan dasar utama etos kerja, apapun bentuk dan jenis pekerjaan, maka taqwa merupakan petunjuknya.
Perlu kiranya dijelaskan di sini bahwa kerja mempunyai etos yang harus diikutsertakan di dalamnya, oleh karena kerja merupakan bukti adanya iman dan parameter bagi pahala dan siksa. Hendaknya para pekerja dapat meningkatkan tujuan akhir dari pekerjaan yang mereka lakukan, dalam arti bukan sekedar mencari upah dan imbalan, karena tujuan utama kerja adalah demi memperoleh keridhaan Allah SWT sekaligus berkhidmat kepada umat. Etos kerja yang disertai dengan ketaqwaan merupakan tuntunan Islam. Sehingga seluruh aktifitas umat Islam tidak lepas dari nilai-nilai keimanan.
b. Niat
Pembahasan mengenai pandangan Islam tentang etos kerja dapat dimulai dengan usaha menangkap makna sedalam-dalamnya sabda Nabi bahwa nilai setiap bentuk kerja itu tergantung kepada niat-niat pelakunya, jika tujuannya mencari ridha Allah maka ia pun akan mendapatkan nilai kerja yang tinggi, dan jika tujuannya hanya untuk memperoleh simpati, maka ia pun akan mendapatkan nilai rendah.
Niat atau komitmen ini merupakan suatu keputusan dan pilihan pribadi, dan menunjukkan keterikatan antara nilai-nilai moral serta spiritual dalam pekerjaan. Karena nilai-nilai moral dan spiritual itu bersumber dari Allah dengan ridha-Nya, maka secara keagamaan semua pekerjaan dilakukan dengan tujuan memperoleh ridha Allah. Oleh karena itu, dapat ditegaskan bahwa pekerjaan yang dilakukan tanpa tujuan luhur yang terpusat pada usaha mencapai ridho Allah berdasarkan iman kepadanya itu tidak mempunyai nilai apa-apa.[10]
Karakteristik Etos Kerja Islami
1. Kerja Merupakan Penjabaran Aqidah
Manusia adalah makhluk yang dikendalikan oleh sesuatu yang bersifat batin dalam dirinya, bukan oleh fisik yang tampak. Ia terpengaruh dan diarahkan oleh keyakinan yang mengikatnya. Faktor agama memang tidak menjadi syarat timbulnya etos kerja tinggi seseorang. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang tidak beragama mempunyai etos kerja yang baik. Tetapi ajaran agama merupakan salah satu faktor yang dapat menjadi sebab timbulnya keyakinan pandangan serta sikap hidup mendasar yang menyebabkan kerja tinggi manusia terwujud.
2. Kerja Dilandasi Ilmu
Konsekuensi Islam sebagai agama ilmu dan amal (termasuk kerja) menuntut umat Islam untuk selalu mengupayakan peningkatan serta pemerataan keduanya secara sungguh-sungguh.
a. Bahwasannya sumber ilmu yang mendasari etos kerja islami adalah wahyu dan keteraturan hukum alam (hasil penelitian akal)
b. Bahwasannya ilmu ‘aqliy, sebagaimana ilmu yang berdasarkan wahyu, dalam Islam dipandang amat penting serta menempati posisi yang amat tinggi bersama iman
c. Bahwasannya proses memperoleh ilmu ‘aqliy adalah dari keteraturan hukum alam (sunatullah atau ketetapan takdir yang mungkin diketahui secara objektif). Pemahaman itu memperkuat iman serta mendidik orang Islam bersangkutan untuk beretos kerja tinggi Islami, bersikap ilmiah, proaktif, berdisiplin tinggi, dan seterusnya.
3. Kerja dengan Meneladani Sifat-Sifat Ilahi serta Mengikuti Petunjuk-PetunjukNya
Keistimewaan orang yang beretos kerja islami aktivitasnya dijiwai oleh dinamika aqidah dan motivasi ibadah. Orang yang beretos kerja islami menyadari bahwa potensi yang dikaruniakan dan dapat dihubungkan dengan sifat-sifat Ilahi pada dasarnya merupakan amanah yang mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya secara bertanggung jawab sesuai dengan ajaran (Islam) yang ia imani. Ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits-hadits Rasul banyak yang menyuruh atau mengajarkan supaya orang Islam giat dan aktif bekerja. Artinya, agar mereka giat memanfaatkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka, sekaligus memanfaatkan sunatullah di alam ini.[11]
Motivasi Kerja Seorang Muslim dalam Al-Qur’an dan Hadis
1. Dalam pandangan Rasulullah terdapat perbedaan sejati antara bekerja tanpa ilmu dengan bekerja dengan ilmu. Menurut Rasulullah “sedikit kerja tetapi dilandasi ilmu itu akan produktif sedangkan banyak kerja dengan dilandasi kebodohan hasilnya kurang produktif. Ini merupakan kritikan sekaligus peringatan dari rasulullah kepada umat islam untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga produktivitas dan kreativitas bisa meningkat.
2. Islam bukan agama asketis. Islam mengajarkan kita untuk mengaktualisasikan nilai-nilai keimanan dalam bentuk amal, kerja, atau perbuatan.
3. Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa salah satu kewajiban manusia di muka bumi ini adalah mencari karunia Allah di seluruh muka bumi. Karunia Allah atau rezeki bisa didapat ketika kita melakukan pencaharaian, usaha, atau, melakukan perjalanan ke segala penjuru bumi.
4. Tidak semua amal ibadah bisa diselesaikan hanya dengan hati dan perbuatan. Namun, terdapat sejumlah amalan Islam yang perlu didukung oleh harta dan kekayaan. Untuk naik haji kita membutuhkan ongkos berangkat dan biaya hidup. Zakat membutuhkan kekayaan yang sampai pada nishabnya. Demikian pula yang lainnya. Dengan kata lain, ada sejumlah amalan Islam yang hanya bisa dijalankan jika kita memiliki sejumlah harta.
5. Salah satu ciri orang yang hidup di zaman modern adalah mereka yang memiliki kemampuan membagi waktu.
6. Allah beserta Rasul dan orang-orang mukmin seluruhnya, secara psikologis mendukung dan memperhatikan hasil kerja setiap muslim.[12] Seperti yang dijelaskan dalam Surat At-Taubah ayat 105:
Artinya: “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, . . . .” (QS. At-Taubah : 105).[13]
Kajian Etos Kerja dalam Al-Qur’an
1. QS. Al-Mujadilah (58) : 11
Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah (58) : 11).[14]
Asbabun Nuzul ayat tersebut adalah: Dalam suatu riwayat Ibnu Abi Hatim dikemukakan bahwa ayat ini turun pada hari Jum’at di saat pahlawan-pahlawan Badar datang ke tempat pertemuan yang penuh sesak. Orang-orang tidak mau memberikan tempat kepada mereka sehingga banyak yang berdiri. Rasulullah SAW menyuruh orang-orang yang duduk untuk berdiri dan memberikan tempat duduknya, namun mereka merasa tersinggung. Ayat ini turun sebagai perintah kepada kaum mukmin untuk menaati Rasulullah SAW dan memberikan kesempatan duduk kepada sesama mukmin.
Penafsiran ayat tersebut adalah:
a. Wahai sekalian mereka yang beriman kepada Allah dan membenarkan RasulNya, apabila dikatakan kepada kamu: “lapangkanlah sedikit tempat duduk untuk diduduki oleh saudara-saudaramu”, maka hendaklah kamu bermurah hati memberikan luang bagi saudara-saudaramu supaya Allah memberikan keluasan kepadamu, karena orang yang memberi kelapangan bagi saudaranya di dalam majlisnya, Allah memberikan keluasan kepadanya bahkan memuliakannya, karena mengingat bahwa pembalasan itu sejenis amalan.
b. Apabila kamu diminta berdiri dari majlis Rasul untuk memberi ruang bagi orang lain atau kamu disuruh pergi dari majlis Rasul maka hendaklah kamu berdiri, karena Rasul terkadang ingin bersendiri untuk menyelesaikan urusan-urusan agama, ataupun menunaikan tugas-tugas yang tidak mungkin disempurnakan dengan beramai-ramai.
c. Allah mengangkat derajat orang-orang beriman, yang mematuhi perintah dan Allah mengkhususkan beberapa derajat lagi kepada orang-orang yang berilmu.
d. Allah mengetahui segala perbuatanmu tak ada yang tersembunyi bagiNya. Allah mengetahui siapa yang taat dan siapa yang durhaka.[15]
Kandungan ayat tersebut:
Islam memerintahkan untuk berusaha keras dalam menuntut ilmu pengetahuan dan hal tersebut menjadi kewajiban manusia selama hidup. Menuntut ilmu pengetahuan harus disertai pula dengan keimanan yang kuat agar mencapai derajat yang tinggi, baik di dunia maupun di akhirat.
Allah menempatkan orang-orang yang beriman, berilmu dan beramal shaleh sesuai dengan ilmunya pada derajat yang paling tinggi. Allah pasti meningggikan derajat orang-orang yang dalam dirinya terdapat tiga hal, yaitu keimanan, ilmu pengetahuan dan amal shaleh.
Sehubungan dengan hal tersebut, Rasulullah terlah bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلٌ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya: Dari Anas Ibn Malik berkata : Rasulullah bersabda: “Menuntut Ilmu itu wajib bagi setiap muslim. (HR. Ibnu Majah).
Hadits di atas menjelaskan bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim. Agar ilmu yang diperoleh bermanfaat, maka hendaknya memenuhi etika dalam menuntut ilmu, seperti bersikap tawadhu’ terhadap guru, dan bersikap lemah lembut terhadap siswa.
2. QS. Al-Jumu’ah (62) : 9-10
Artinya: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah (62) : 9-10).[16]
Penafsiran dari ayat tersebut adalah:
a. Apabila muazzin telah berazan dihadapan imam dan imampun telah berada di atas mimbar pada hari Jum’at untuk khutbah Jum’at, maka tinggalkanlah segala pekerjaanmu dan pergilah untuk mendengarkan khutbah imam dan hendaklah kamu berjalan dengan tenang, tidak tergesa-gesa.
b. Apabila kamu telah menunaikan sembahyang, maka pergilah kamu untuk mengerjakan kemaslahatannya yang duniawi. Carilah keutamaan Allah serta sebutlah Allah dan ingatlah bahwa segala gerak gerikmu diperhatikan Allah, tak ada satupun yang luput dari perhatianNya.[17]
3. QS. Al-Mulk (67) : 5
Artinya: ”Sesungguhnya kami Telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al-Mulk (67) : 5)[18]
Penafsiran ayat tersebut adalah:
Bintang-bintang yang bersinar di angkasa tinggi memberikan cahaya kepada orang yang berbakti dan orang yang berbuat maksiat. Masing-masing mereka mempergunakan sinar bintang-bintang itu menuruti keadaan yang layak bagi mereka. Orang-orang yang durhaka kepada Allah mempergunakan limpahan bintang-bintang itu untuk jalan memenuhi hawa nafsu dan merekalah yang akan dibenam di dalam neraka.[19]
4. QS. An-Naba (78) : 11
Artinya: “Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan”.[20]
Penafsiran ayat tersebut adalah:
Dan kami jadikan siang hari sebagai masa untuk mencari upaya penghidupan, karena segala aktivitas dan kesibukan manusia dilakukan pada siang hari, baik yang menyangkut kebutuhan hidup mereka maupun dalam hal mencari upaya penghidupan.[21]
5. QS. At-Taubah (9) : 105
Artinya: “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan”. (QS. At-Taubah : 105).[22]
Penafsiran QS. At-Taubah : 105 Menurut Beberapa Mufassir:
a. Tafsir Al Munir
I’malu, Imam Zuhaili dalam kitab al-Munir menafsirkan kalimat tersebut sebagai perintah bagi umat manusia supaya menjalankan pekerjaan sesuka hati “bekerjalah kalian sesuai kehendakmu” baik berupa kebajikan maupun kemaksiatan.
Semua amal umat manusia akan dikembalikan besok di hari kiamat kepada Allah SWT yang Maha mengetahui hal-hal yang tidak nampak dan perkara yang tampak.
Kemudian Allah akan memperlihatkan amal-amal mereka, serta akan membalas segala amal perubuatan mereka sesuai dengan perbuatan mereka. Jika berbuatan mereka baik, maka Allah akan memberikan pahala bagi mereka, dan sebaliknya Allah akan menyiksa mereka yang berbuat maksiat.[23]
Kalimat tersebut menunjukkan adannya Allah SWT, dan dalil bagi ahlul sunnah bahwa setiap sesuatu yang dibuat, maka hal tersebut akan dapat dilihat.[24] Dari keterangan imam al-Zuhaili tersebut mengandung arti bahwa umat manusia diperintahkan agar melakukan pekerjaannya sesuai dengan kehendak hati. Akan tetapi semua perbuatan yang dikerjakan oleh manusia akan dilihat oleh Allah SWT, dan semua amal manusia akan diperlihatkan kepada manusia dihari kiamat, serta memberikan imbalan sesuai dengan perbuatan mereka sewaktu hidup di dunia.
Contoh Etos Kerja dalam Bidang Pendidikan Kajian Ceramah Agama Islam
Pengajar dan pendidik adalah sama. Keduanya tidak dapat dibedakan. Oleh karena itu, dalam konsep pendidikan mengarah kepada pembentukan akhlak, dalam prosesnya tidaklah digunakan ta’dib dan ta’lim.[25] Dengan demikian dapat dipahami bahwa profesi guru merupakan profesi yang paling mulia dan paling agung dibanding dengan profesi yang lain. Dengan profesinya itu seorang guru menjadi perantara antara peserta didik dengan penciptanya.
Tugas guru Pendidikan Agama Islam tidak hanya mengajar dan menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didiknya, akan tetapi guru Pendidikan Agama Islam juga harus memberikan bimbingan dan asuhan terhadap peserta didiknya agar nantinya peserta didik dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam, serta menjadikannya sebagai jalan kehidupan, baik pribadi maupun kehidupan bermasyarakat. Guru Pendidikan Agama Islam akan berhasil dalam menjalankan kewajibannya apabila guru tersebut memiliki kompetensi personal religius, dan kompetensi profesional religius. Sekolah yang fasilitasnya bagus memerlukan etos kerja guru yang baik pula.
Sosok guru yang berkompeten bukan hanya guru yang memiliki ilmu tinggi, akan tetapi etos kerja yang baik juga harus dimiliki oleh guru. Berkaitan dengan surat At-Taubah ayat 105, yaitu bahwasannya setiap amal yang dikerjakan akan diketahui oleh Allah SWT, dan semua amal manusia akan diperlihatkan besok setelah hari kebangkitan dari kubur, setelah itu akan menerima balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dikerjakan di muka bumi. Unsur-unsur etos kerja yang harus dimiliki oleh guru Pendidikan Agama Islam antara lain kedisiplinan kerja, sikap guru PAI terhadap pekerjaan, serta kebiasaan-kebiasaan yang baik dari seorang guru PAI.
Kesimpulan
Etos kerja adalah karakter dan kebiasaan berkenaan dengan kerja yang terpancar dari sikap hidup manusia yang mendasar terhadapnya. Komponen dasar dari etos kerja adalah iman dan taqwa, serta niat. Umat Islam memiliki karakteristik tersendiri mengenai etos kerja. Dalam melaksanakan pekerjaan, ada beberapa motivasi yang mempengaruhi.
Banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan mengenai etos kerja. Dalam ayat tersebut dijelaskan mengenai etos kerja yang diajarkan oleh Allah. Sebagai umat muslim sudah sebaikanya untuk membiasakan diri dengan perilaku etos kerja yang baik. Perilaku tersebut antara lain:
1. Manusia hendaknya memahami perannya sebagai khalifah yang bertugas memakmurkan bumi dengan bekerja keras dan menuntut ilmu sebaik-baiknya untuk bekal masa depan
2. Memiliki sikap dan sifat yang tidak merugikan orang lain walaupun orang lain lebih mulia dan tinggi derajatnya
3. Mencintai pekerjaan walau sekecil apapun dan menyadari bahwa segala yang ada di dunia ini telah diciptakan dengan sempurna oleh Allah
4. Melaksanakan ajaran Islam untuk bekerja keras guna menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup yang baik dan sejahtera serta sebagai alat untuk mencapai tujuan hidup yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Maraji’
[1] Hamzah Ya’qub, Etos Kerja Islami, (Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 1992), hal. 2.
[2] Toto Tasmara, Etos Kerja Pribadi Muslim, (Jakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995), hal. 25-26.
[3] Ahmad Janan Asifudin, Etos Kerja Islami, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2004), hal. 26.
[4] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), hal. 751.
[5] Husain Syahatah, Transaksi dan Etika Bisnis Islam, Jakarta: Visi Insani Publishing, 2005, hlm. 21
[6] Yusuf Qhardawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 1997, hlm. 104.
[7] Ibid., hal. 27.
[8] Ahmad Janan Asifudin, Etos Kerja Islami . . . , hal. 26.
[9] http://fidiyanarani.blogspot.co.id//etos kerja Islami, diakses pada tanggal 24 November 2015 pukul 9.36 WIB.
[10] Ibid.,
[11] Ahmad Janan Asifudin, Etos Kerja Islami . . . , hal. 104-122.
[12] Cecep Darmawan, Kiat Sukses Manajemen Rasulullah Manjemen Sumber Daya Insani Berbasis Nilai-Nilai Ilahiyah, (Bandung: Khazanah Intelektual, 2006), hal. 193-194.
[13] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung : Pustaka Al-Hanan, 2007) hal. 203.
[14] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung : Pustaka Al-Hanan, 2007), hal. 543.
[15] Hasbi, Ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Qur’anul Majid “an-Nur”, (Jakarta : Bulan Bintang, 1965), hal. 23-27.
[16] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung : Pustaka Al-Hanan, 2007) hal. 554.
[17] Hasbi, Ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Qur’anul Majid “an-Nur”. . . . , hal. 121.
[18] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung : Pustaka Al-Hanan, 2007) hal. 562.
[19] Hasbi, Ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Qur’anul Majid “an-Nur”. . . . , hal. 11.
[20] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung : Pustaka Al-Hanan, 2007) hal. 582.
[21] Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, (Semarang : Toha Putra, 1993), hal. 11.
[22] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung : Pustaka Al-Hanan, 2007) hal. 203.
[23] Wahbah az-Zuahiliy, Tafsir Al Munir, (Beirut: Darul Fikr al-Mu’ashir, 1991), Juz 11, hal. 27.
[24] Ibid., hal. 35.
[25] Abidun Ibnu Rusn, Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), hal. 63.

Kamis, 25 Agustus 2016

Makalah Tentang Etos Kerja

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Setiap manusia diwajibkan untuk melakukan usaha dan berperilaku baik. Usaha yang dilakukan haruslah sungguh-sungguh dengan niat ikhlas. Tidak boleh setengah-setengah karena hasilnya tidak akan maksimal. Dalam Islam juga diwajibkan untuk berikhtiar dan tidak hanya pasrah. Allah akan memberikan karunia terhadap setiap usaha yang dikerjakan dan juga disertai dengan doa.
Rasulullah SAW bersabda: “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” Dalam ungkapan lain dikatakan juga, “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah, Memikul kayu lebih mulia dari pada mengemis, Mukmin yang kuat lebih baik dari pada muslim yang lemah. Allah swt.menyukai mukmin yang kuat bekerja.”Nyatanya kita kebanyakan bersikap dan bertingkah laku justru berlawanan dengan ungkapan-ungkapan tadi.
Dalam zaman yang modern ini, kita dituntut untuk selalu berusaha, tidak hanya rajin, tapi lebih dari itu, asalkan tidak melanggar dan melampaui batas – batas dalam Islam.
Untuk itu, disini penulis akan memaparkan mengenai etos kerja secara lebih rinci.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas, maka saya mengangkat rumusan masalah, yaitu
Bagaimana etos kerja yan sesuai dalam Islam?
1.3. TUJUAN
Adapun tujuan dari kegiatan ini, yaitu
Untuk memaparkan etos kerja yang sesuai dengan Islam
1.4.MANFAAT
Dari kegiatan ini diharapkan mampu memberikan manfaat
1.      Dapat mengetahui apa yang dimaksud etos kerja
2.      Dapat megetahui bagaimana etos kerja dalam Islam
3.      Melatih kita untuk senantiasa berusaha
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. PENGERTIAN ETOS KERJA
Etos berarti pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial. Kata kerja berarti usaha,amal, dan apa yang harus dilakukan (diperbuat).Etos berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat . Dalam kamus besar bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok. Kerja dalam arti pengertian luas adalah semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi, intelektual dan fisik, maupun hal-hal yang berkaitan dengan keduniaan maupun keakhiratan. (Dr.Abdul Aziz.Al Khayyath,1994 : 13). Berdasarkan pengertian tersebut dapat dipahamkan bahwa semua usaha manusia baik yang dilakukan oleh akal, perasaan, maupun perbuatan adalah termasuk ke dalam kerja.
Dalam bekerja, setiap pekerja muslim (muslimah), hendaknya sesuai dengan etika Islam, yaitu :
·         Melandasi setiap kegiatan kerja semata-mata ikhlas karena Allah serta untuk memperoleh rida-Nya. Pekerjaan yang halal bila dilandasi dengan niat ikhlas karena Allah tentu akan mendapatkan pahala ibadah.
Rasulullah saw bersabda , yang artinya : Allah swt tidak akan menerima amalan, melainkan amalan yang ikhlas dan yang karena untuk mencari keridaan-Nya(H.R.Ibnu Majah )
·         Mencintai pekerjaannya. Karena pekerja yang mencinta pekerjaanya, biasanya dalam bekerja akan tenang, senang, bijaksana, dan akan meraih hasil kerja yang optimal.
Rasulullah saw bersabda, yang artinya Sesungguhnya Allah cinta kepada seseorang di antara kamu yang apabila mengerjakan sesuatu pekerjaan maka ia rapihkan pekerjaan itu.
·         Mengawali setiap kegiatan kerjanya dengan ucapan basmalah.
Nabi saw bersabda yang artinya :Setiap urusan yang baik (bermanfaat, yang tidfak dimulai dengan ucapan basmalah (bismillahirrahmanirrahim,maka terputus berkahnya.(H.R.Abdul Qahir dari Abu Hurairah)
·         Melaksanakan setiap kegiatan kerjanya dengan cara yang halal.
Nabi saw bersabda, yang artinya :Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang baik,mencintai yang baik (halal), dan tidak menerima (sesuatu) kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin sesuatu yang diperintahkan kepada para utusan-Nya (H.R.Muslim dan Tirmidzi)
·         Tidak (Haram) melakukan kegiatan kerja yang bersifat mendurhakai Allah. Misalnya bekerja sebagai germo, pencatat riba (renten), dan pelayan bar.Artinya : “Tidak ada ketaatan terhadap makhluk untuk mendurhakai sang pencipta”.(H.R.Ahmad bin Hambai dalam musnadnya, dan hakim dalan Al-Mustadrokanya, kategori hadis shahih)
·         Tidak membebani diri, alat-alat produksi, dan hewan pekerja dengan pekerjaan-pekerjaan di luar batas kemampuan.
·         Memiliki sifat-sifat terpuji seperti jujur, dapat dipercaya, suka tolong menolong dalam kebaikan, dan professional dalam kerjanya
·         Bersabar apabila menghadapi hambatan-hambatan dalam kerjanya. Sebaliknya, bersyukur apabila memperoleh keberhasilan.
·         Menjaga keseimbangan antara kerja yang manfaatnya untuk kehidupan di dunia dan yang manfaatnya untuk kehidupan di akhirat. Seseorang yang sibuk bekerja sehingga meninggalkan shalat lima waktu, tidak sesuai dengan Islam.
Rasulullah saw bersabda yang artinya,”Kerjakanlah untuk kepentingan duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya, tetapi kerjakanlah untuk kepentingan akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok.”(H.R.Ibnu Asakin)
2.2   SURAT YANG MEMBAHAS ETOS KERJA
1.       Al-Quran Surah Al-Mujadilah,58:11

Artinya :“Hai orang-orang yang beriman,apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan : ‘Berdirilah kamu’, maka kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Q.S.Al-Mujadilah,58:11)
Ayat Al-Quran Surah Al-Mujadilah ayat 11 isinya antara lain berkaitan dengan adab atau tata krama yang harus diterapkan dalam majelis-majelis yang baik dan diridai Allah swt. Adab atau tata karma yang dimaksud yaitu memberikan kelapangan dada kepada orang-orang yang akan mengunjungi dan berada dalam majelis-majelis tersebut dengan cara, seperti : mempersilahkan orang lain yang  datang belakangan untuk duduk di samping kita, sekiranya masih kosong, menciptakan suasana nyaman, mewujudkan rasa persaudaraan, saling menghormati dan saling menyayangi, serta tidak boleh menyuruh orang lain yang lebih dulu menempati tempat duduknya untuk pindah ke tempat lain tanpa alasan yang dibenarkan oleh syara’
Mukmin/Mukminah apabila diperintahkan Allah dan rasul-Nya untuk bangun melaksanakan hal-hal yang baik yang diridai-Nya, seperti shalat, menuntut ilmu, berjuang di jalan Allah, dan membiasakan diri dengan akhlak terpuji, maka perintah tersebut hendaknya segera dilaksanakan dengan niat ikhlas dan sesuai dengan ketentuan syara’
Ilmu pengetahuan mempunyai banyak keutamaan. Perbuatan ibadah yang tidak dikerjakan sesuai dengan ilmu tentang ibadah tersebut, tentu tidak akan diterima Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda Artinya : “Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”(H.R.Muslim)
2.       Al-Quran Surah Al-Jumu’ah: 9-10
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (۹)
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(۱۰)
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”(Q.S.Al-Jumu’ah 62:9-10)
Mengacu kepada Q.S. Al-Jumu’ah: 9-10, umat Islam diperintah oleh agamanya agar senantiasa berdisiplin dalam menunaikan ibadah wajib, seperti shalat, dan selalu giat berusaha atau bekerja sesuai dengan nilai-nilai Islam (etos kerja yang Islami). Termasuk ke dalam kerja yang Islami antara lain: belajar secara sungguh-sungguh, bekerja keras, dan berkarya secara produktif sehingga dapat mendorong keadaan kearah yang lebih maju.
2.3. CONTOH ETOS KERJA
Dari paparan yang telah di urai diatas, saya akan menuliskan contoh – contoh etos kerja
1.         Belajar dengan giat. Belajar dengan giat ini dimaksudkan untuk mencapai masa depan yang baik lagi. Karena dengan belajar, akan mampu menjadikan individu menjadi pandai serta mampu menghadapi berbagai persoalan dalam pelajaran. Serta akan mampu untuk menjadikan individu tersebut menjadi lebih tinggi, karena dengan ilmu, Allah akan meninggikan derajat ndividu tersebut.
2.      Mencuci piring seusai makan. Hal ini dimaksudkan untuk melatih individu supaya mampu bertanggung jawab atas segala tindakan yang dikerjakan. Dalam hal ini yang dimaksud dengan tindakan yang dikerjakan merujuk artinya pada makan. Karena kalau berusaha melath tanggung jawab dengan hal-hal yang kecil, insya Allah hal ini akan menjadikan individu untuk mampu bertanggung jawab dalam segala hal
3.          Menyapu lantai. Menyapu lantai adalah tindakan lumrah untuk dilakukan dengan tujuan agar rumah menjadi bersih dan indah. Tak lupa pula bahwa dalam Islam, Allah itu menyukai keindahan. Karena keindahan itu merupakan sebagian daripada iman. Untuk itu, sangat penting untuk menjaga kebersihan, dimanapun kita berada dan dalam kondisi apapun.
Berikut ini hadist tentang kebersihan.
                
                 Yang artinya, kebersihan itu sebagian daripada iman.
                                                                                            
BAB 3
PENUTUP
3.1.1.        KESIMPULAN
        Dari paparan di atas, maka dapat diambil kesimpulan
1.      Dalam bekerja setiap muslim harus sesuai etika dalam Islam dan tidak melampaui batasannya
2.      Surat yang membahas tentang etos kerja yaitu Surah Al-Mujadilah,58:11 dan Surah Al-Jumu’ah: 9-10
3.      Contoh dari etos kerja meliputi belajar dengan giat, mencuci piring, menyapu lantai
3.2.              SARAN
Dari paparan di atas, maka penulis memeberikan saran
1.       Untuk melatih berusaha, dapat dimulai dari hal kecil. Untuk itu, sebaiknya kita melatihnya mulai sekarang
2.       Dalam berusaha hendaknya usaha yang maksimal supaya hasilnya juga maksimal. Untuk itu, sebaiknya kita melatih diri kita agar selalu maksimal dalam berusaha